WAYANG THENGUL   Wayang Thengul adalah kesenian tradisi berbentuk  pertu...

06:26 by Unknown

                                                           WAYANG THENGUL

 
Wayang Thengul adalah kesenian tradisi berbentuk  pertunjukan wayang golek ( boneka dari kayu) yang tumbuh dan  berkembang di Bojonegoro. Sebenarnya Wayang Thengul ini sangat mirip dengan Wayang Golek yang ada di Jawa Barat, perbedaanya adalah wayang golek sudah dikenl masyarakat luas secara nasional, sedangkan wayang thengul masih  bersifat lokal. Istilah thengul berasal dari kata methentheng terus methungul  yang artinya adalah karena wayang ini terbuat dari kayu atau tiga dimensi maka dalang harus  methentheng (menggunakan tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar wayang dapat methungul (terlihat) muncul dan terlihat pada penonton. Kesenian wayang thengul berasal dari desa Tenggor kecamatan  Ngasem kabupaten Bojonegoro. Tata busana Wayang Thengul diadaptasi dari ciri khas Bojonegoro dan Arab (Islami). Jika ditinjau dari iringan, Wayang Thengul menggunakan gamelan slendro. Yang dimainkan wiyogo, gerong dan sinden. Gendingnya juga menggunakan gending khas Bojonegoro yang bernama gending Tenggor. Nama gending tersebut sebenarnya adalah nama salah satu desa di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Belum ada sumber yang menjelaskan apakah Wayang Thengul dari desa tersebut atau tidak. Adapula gending yang  baku pada Wayang Thengul, gending tersebut bernama waru doyong, serta gending ladrang yang  bersifat gending tambahan. Sama halnya dengan ketoprak, Wayang Thengul mengangkat cerita yang diambil dari kisah nyata. Ada  berbagai macam cerita yang biasa dimainkan dalang. Cerita Menak (Amir Hamzah), Majapahit, Demak, Kediri, dan bahkan cerita Wali Sanga, dari mulai Sunan Giri hingga Sunan Kalijaga. Dalam pertunjukan Wayang Thengul zaman sekarang ini, banyak sekali tambahan-tamabahan yang disesuaikan dengan  perkembangan masyarakatnya. Di sela-sela suatu adegan , adapat disisipkan adegan Gecul (banyolan), yang mengungkapkan tentang kabar yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Dalang-dalang wayang thengul yang terkenal adalah Mbah Dalang Kencit, anaknya yaitu Mbah Marji Degleg (Tikusan) , dan Pak Darno (Sugihwaras).
Selain itu, ada yang menyebutkan bahwa wayang thengul berasal dari desa Mulyoagung kecamatan Balen. Menurut Pak Cip salah satu warga desa Mulyoagung yang sekaligus  pemerhati kesenian tradisional, wayang thengul adalah salah satu aset kesenian Bojonegoro yang harus di jaga dan di pelihara keaslianya. Desa Mulyoagung adalah salah satu desa yang masih rutin menggelar  pertunjukkan wayang thengul. Wayang thengul ini dapat tumbuh dan berkembang karena adanya dukungan dari masyarakat, karena selain sebagai tontonan, wayang juga dapat menjadi tuntunan, pendidikan,  bimbingan dan sebagai pedoman dalam kehidupan, khususnya pada masyarakat Jawa. Hal ini diterapkan oleh masyarakat desa Mulyoagung sebagai sarana belajar bagi masyarakat, karena ceritanya yang mengandung banyak unsur dari cerita tentang Jawa dan agama.
Di dalam perjalanan kesenian tradisional ada masa kejayaan dan masa tenggelam. Hal ini juga dialami oleh kesenian wayang thengul. Kesenian Wayang thengul sempat memiliki masa keemasan yaitu sekitar tahun 1950an. Saat itu wayang thengul menjadi salah satu kesenian yang sangat digemari masyarakat. bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan  bersama. Salah satu contohnya, saat warga mempunyai hajatan, warga akan nanggap wayang thengul. Setelah mempunyai masa keemasan, wayang thengul juga mempunyai masa dimana  penikmatnya mulai berkurang. Sejak tahun 1970an, wayang thengul menjadi sepi. Tanggapan menjadi sangat berkurang, sehingga banyak dalang wayang thengul yang  berpindah menjadi dalang wayang lainya. Banyak cara yang dilakukan  para pekerja seni dan dalang- dalang yang masih aktif agar wayang thengul bisa terus berjaya. Sekitar tahun 1990an, munculah tari thengul, dimana tari ini adalah bentuk lain dari wayang thengul. Munculnya tari thengul adalah salah satu alasan para seniman agar masyarakat mau kembali menerima wayang thengul sebagai salah satu kesenian asli yang harus tetap dikembangkan. Usaha ini mendapat respon baik dari masyarakat Bojonegoro, karena dengan usaha ini wayang thengul mulai dikenal lagi.

Sumber :
www.scribd.com/doc//KEBERADAAN-WAYANG-THENGUL-DESA-MULYOAGUNG-KECAMATAN-BALEN-KABUPATEN-BOJONEGORO


TARI THENGUL

(Tari Thengul yang ditampilkan oleh siswa SMAN 1 Bojonegoro)

Tari Thengul adalah Tari Tradisional dari Bojonegoro yang tampilannya cukup tidak membosankan. Gerakan tariannya yang khas dan condong kaku membuat tarian ini mempunyai ciri khas tersendiri. Tari Thengul ini diambil dari pertunjukan Wayang Thengul  yang merupakan ikon kesenian tradisi wayang golek asli Kabupaten Bojonegoro dan sudah memperoleh pengakuan nasional. Tari  Thengul adalah Tari dengan gerakan kaku siku pada gerakan tangan, gerakan tegas pada gerakan kepala, dilengkapi tata rias muka putih dengan cunduknya, seperti boneka, ekspresi senyumnya menampakan hubungan sosial yang akrap.

Tari Thengul merupakan sebuah tarian yang dilakukan secara berkelompok berkarakter gecul (Komedi) yang menjadi salah satu Kesenian khas Bojonegoro Jawa Timur, tarian ini menggambarkan Wayang Thengul yang diperagakan oleh manusia, dengan ditampilkannya ekspresi senyum yang mewakili keakraban sebuah hubungan sosial.

Sejarah Tari Thengul bermula pada tahun 1990-an ketika diselenggarakan Festival Tari Daerah dalam Pekan Budaya dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, yang pada saat itu, Tari Thengul  masuk menjadi salah satu kategori penampilan terbaik Festival Tari Daerah. Tarian Thengul biasanya dibawakan oleh 7 Penari Putri, diawali dengan instrument seperangkat Gamelan yakni dibuka oleh Gender yang disusul dengan Slentem bersama Oklik, mula-mula penari keluar dengan jalan pinokio, dilanjutkan buka cluluk, lalu jogedan dengan gending Tenggor, playon dibarengi keteran alat musik, guyonan lanjut jogedan dan kemudian tutup kayon, iki Thengul yo.  Dimulai dengan terciptanya Tarian Thengul, tercipta pula beberapa Tarian yang bersumber dari Tarian tersebut, seperti Tari Sindir Thethengulan, Tari Golek Thengul serta Tari Geyeran. Namun telah ditetapkan dalam pementasan untuk penyambutan tamu masih menampilkan Tari Thengul. Pada tahun 2003 Thengul tampil pada Pawai Budaya festival seni Bojonegoro di dukung 5 penari putra dengan media gambar thengul setinggi 2 meter.

Tarian ini sungguh tidak membosankan dan mempunyai ciri khas sendiri yang membuat para penontonnya terpukau dan seakan terbawa suasana ingin menari seperti yang sedang mereka tonton. Ini adalah salah satu warisan budaya Bojonegoro yang sangat luar biasa yang saat ini sudah diakui oleh Nasional, bahkan Dunia.

0 comments:

Post a Comment